Kolintang – Alat Musik Trasdisional Asal Sulawesi Utara

Kolintang

Mungkin banyak orang yang lupa atau tidak memperhatikan lagi tentang alat musik khas Minahasa, Sulawesi Utara, yakni kolintang yang sudah dikenal sejak puluhan tahun silam.

Namun sayangnya, musik yang alatnya terbuat dari kayu ini sempat “menghilang”, karena tidak mampu bersaing dengan perkembangan musik modern saat ini.

Karena itu, dibutuhkan suatu komitmen yang jelas untuk tetap melestarikan seni musik asli daerah ini, sehingga musik kolintang akan tampil sejajar dengan musik modern, meski dikemas secara tradisional.

Sejarah dan Awal Mula

Sejarahnya, alat musik ini ditemukan oleh seorang pria asal Minahasa yang bernama Lintang. Nama kolintang berasal dari suaranya: tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa).

Dalam bahasa daerah, ajakan “Mari kita lakukan TONG TING TANG” adalah: “Mangemo kumolintang”. Ajakan tersebut akhirnya berubah menjadi kata kolintang.

Kolintang biasa dimainkan untuk mengisi berbagai acara, seperti pesta pernikahan, penyambutan, peresmian, pengucapan syukur, keagamaan, dan pada acara pertandingan.

Hingga kini, masih banyak pewaris-pewaris budaya yang terus melestarikan kolintang. Bahkan hingga ke sekolah-sekolah, banyak dipelajari cara memainkan alat musik kolintang.

Masih banyak perajin alat musik kolintang di Sulut, bahkan asli orang Sulut yang sudah bermukim di daerah Iain.

Harga dan Cara Membuat Kolintang

Untuk membuat kolintang, kita harus mengenal jenis kayu dan menentukan kayu tertentu untuk not atau tangga lagu tertentu pula.

Pengerjaan satu set kolintang biasanya membutuhkan waktu antara tiga pekan hingga satu bulan.

Satu set alat musik kolintang, terdiri atas sembilan jenis alat musik, mulai dari melodi, penggiring hingga celo dan bas serta dijual dengan harga Rp25,25 juta.

Penutup kolintang dijual Rpl 50.000, pemukul kolintang satu set Rp500.000 dan stan partitur kolintang per satuan seharga Rpl 50.000.

Namun, harga tersebut bukan standar secara keseluruhan penjualan, karena harga tergantung kualitas dan banyaknya alat musik.

Alat musik ini terbuat dari kayu Iokal yang ringan, tetapi kuat dan mempunyaikonstruksi fiber paralel.

Kayu yang bagus untuk musik kolintang adalah kayu waru gunung dan cempaka. Kayu dengan bentuk pendek akan menghasilkan tangga lagu yang tinggi.

Sebaliknya, kayu yang panjang akan menghasilkan tangga lagu (not) yang rendah.

Perjalanan

Pada awalnya, kolintang sempat dilarang dimainkan pada masa penjajahan Belanda karena digunakan untuk mengiringi upacara ritual pemujaan arwah leluhur oleh masyarakat setempat.

Seiring berjalannya waktu, ternyata kolintang tidak hanya digemari di Sulut, tapi juga di daerah Iain termasuk di Jawa.

Sambutan publik terhadap kehadiran kolintang yang diiringi gitar, ukulele, dan string bas ini ternyata luar biasa. Bahkan, kolintang saat itu sempat menjadi salah satu media kampanye.

Selanjutnya, Kolintang terus berkembang. Tidak sedikit kelompok musik yang sudah pentas melanglang ke berbagai negara di dunia, seperti Singapura, Australia, Belanda dan sekitarnya hingga Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris.

Kolintang juga sempat tampil di Swiss, Denmark, Swedia, dan Norwegia. Di era 1990-an, kolintang sangat populer bagi masyarakat di dalam negeri maupun luar negeri.

Pembuat Kolintang pun mulai menjamur. Pemesanan dari luar negeri pun terus mengalir, antara Iain dari Australia, Cina, Korea Selatan, Hongkong, Swiss, Kanada, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat.

Hampir semua kedutaan besar Indonesia di dunia mengoleksi alat musik kolintang buatannya.

Juga Twilite Orchestra pimpinan Addie MS memercayakan penggunaan alat musik kolintang dalam konser yang menggunakan alat musik kolintang.

Kini, alat musik kolintang banyak digunakan dalam berbagai pagelaran di dalam maupun luar negeri.

Selain harmoni dari berbagai nada yang terdengar indah, lantunan suara kolintangjuga mampu memukau orang yang mendengarnya. Bahkan luar negeri pun hingga kini masih menganggumi harmoni musik pukul kayu ini.